Senin, 13 April 2015

CARA TINGGI BADAN ALAMI

TINGGI BADAN 1. Olah raga yang teratur dan biasakan untuk berdiri : Olah raga adalah aktifitas tubuh yang paling baik untuk menjaga setamina tubuh dan untuk meninggikan badan karena semua bagian tubuh akan mengalami perkembangan , Olahraga yang baik untuk menambah tinggi badan diantaranya basket, berenang, loncat tali dan lain-lain. 2. Makan makanan yang bernutrisi dan bervitamin : Setelah anda berolahraga dan setiap waktu makan usahakan anda makan makanan yang 4 sehat 5 sempurna , Atau kalau nggak setidaknya selalu sediakan menu sayuran terutama yang mengandung zat besi dan kalsium dalam menu makanmu. Seperti bayam, sawi dan lain-lain. 3. Minum susu setiap hari : Jangan lupa untuk minum yang berkalsium seperti susu karena itu sangat membantu anda untuk cara meninggikan badan. karena saat anda selesai berolah raga keadaan tulang tulang yang tumbuh akan menjadi kosong dan untuk memperkuat tulang adalah dengan minum susu. 4. Hindari begadang : Beraktifitas yang aktif memang baik tapi kalu berlebihan akan menjadi tidak baik. Usahakan tidur selama 8 jam selama sehari karena istirahat yang cukup mengeluarkan hormone yang banyak untuk pertumbuhan, hindari begadang karena akan mengganggu pertumbuhan. 5. Hindari pikiran stress : Saat kita mengalami stres secara tidak sengaja kita akan menjadi malas untuk ngapa ngapain termasuk makan,tapi saya punya solusi kalau anda sedang stres jadi hilangkan stress dengan membiasakan untuk makan biar bermanfaat, dan bila anda stress akan mempengaruhi pertumbuhan anda. 6. Tetap semangat dan berdoa : Nah dalam proses yang terakhir ini juga penting karena dengan berdoa kepada zat pencipta yaitu tuhan yang maha esa agar semua permintaan anda terkabul. Dan tetap semangat untuk menjalani proses proses diatas. 1. Lari cepat jarak pendek (sprint) Latihan ini bermanfaat meningkatkan pelepasan hormon pertumbuhan. Penekanan pada otot kaki selama latihan berdampak pada pemanjangan tulang dan otot. Tetapi jangan terlalu sering melakukannya karena dapat menyebabkan pembengkakan pada otot dan tendon. Sprint dianjurkan pada permukaan alami seperti lantai atau rumput, bukan beton. 2. Menendang Berdiri dengan kaki lebar dan angkat satu kaki kemudian lakukan tendangan. Ulangi minimal 20 tendangan pada satu kaki dan kemudian beralih ke kaki yang lain. Lakukan latihan ini selama 20 kali, karena dapat memperpanjang tulang kering dan paha. 3. Lompat Berdirilah di depan bangku atau tangga setinggi kaki. Untuk memulai, lompat dengan satu kaki dalam sepuluh hitungan. Lalu, ulangi dengan kaki lain. Lakukan gerakan melompat hingga tiga kali. Anda bisa beristirahat di sela latihan. 4. Bersepeda Gerakan mengayuh sepeda membuat jari kaki terus mencapai pedal. Ini merupakan peregangan yang bisa membuat kaki lebih panjang. Lakukanlah selama sekitar 10-15 menit. Anda juga dapat menggunakan sepeda statis atau stationary cycle. 5. Berenang Olahraga satu ini memang sangat efektif untuk membuat tubuh fit dan lebih fleksibel. Lakukan renang gaya dada dan lakukan minimal 20 menit. 6. Lompat tali Latihan ini sangat menyenangkan, apalagi jika Anda sambil mendengarkan musik menghentak. Lakukan sebanyak 300 kali setiap hari. 7. Berayun Gunakan penahan atau ambang pintu yang tinggi. Anda dapat membelinya di toko peralatan olahraga. Awali posisi dengan berdiri lalu biarkan tubuh berayun. Posisi kaki bisa lurus atau ditekuk, buatlah tubuh senyaman mungkin. Lakukan gerakan ini setidaknya 10 kali dalam sehari. 8. Free Hand Berdirilah tegak dalam ruangan yang luas dan tarik napas dalam-dalam. Angkat tangan letakan di tingkat bahu, lalu dorong tangan sejauh mungkin dan lepaskan napas. Ulangi 8 -10 kali. Tarik napas dan kembali memosisikan tangan. Lalu, angkat tumit sambil berdiri jinjit, hembuskan napas, ulangi 80-10 kali. Tarik napas dan angkat lengan terentang di atas kepala. Lalu ayunkan ke dalam dengan arah melingkar dan buang napas. Ulangi 80-10 kali. Pilih latihan yang paling cocok untuk Anda. Tapi harus dilakukan ecara teratur dan konsisten. Cobalah untuk memiliki waktu teratur untuk latihan Anda sehingga Anda dapat merasakan efeknya. sumber

Senin, 11 Agustus 2014

berbagi tautan.
Assalamu alaikum Afwan....Maaf Numpang berbagi info BISNIS nih.... "PENGHASILAN EXTRA TANPA MODAL Sepeserpun...!!!
Buat yang hobby online, bisa buat income
hingga Rp 3,000,000 atau lebih dalam sehari.
TANPA modal sepeserpun...
Cuma butuh waktu 3 menit saja stlh anda baca ini.....
Saya mau berbagi 1 program dari US yg bisa buat cari penghasilan sampingan.
Free register tanpa dikenakan
biaya sepeserpun....
Tiada modus penipuan (kalau Anda
rasa program ini bohong… Anda gak rugi apa2 juga, Anda toh gak keluar modal/ duit sepeser pun...!!) Persyaratan simpel saja :
Anda cukup punya bbm , fb, wechat, whatsapp or mdia sosial apapun.. dan suka online.
Anda hanya perlu open link di
bawah dan register sebagai member.
Sesudah register Anda langsung dpt US$ 25 x 11,000 = Rp 275,000.. kemudian Anda akan dapat link Anda sendiri seperti link saya di
bawah.
Anda copy link Anda sendiri dan
bc di fb, twitter, wechat dan sebagainya.
Setiap orang yg buka link Anda dan
Register, Anda akan menerima fee
sebanyak US$10 x 11,000 = Rp 110,000 ,
mudah bukan...?
Perusahaan ini membayar
kita sebagai pengiklan untuk meningkatkan traffic situs webnya setiap hari.
Pencairan duit Anda bisa pilih, duitnya mau ditransfer
ke rekening bank atau cek akan dipos langsung ke alamat rumah Anda.
TUNGGU APA LAGI....!!!
open & register sekarang juga...!!
klik link ini :
http://WeeklyYouthPay.com/?ref=205039
Selamat mencoba dan mulailah berbagi.
Selamat menikmati penghasilan tambahan anda.....!!!

Selasa, 18 Februari 2014

REPRODUKSI WANITA



Alat reproduksi perempuan bagian luar-dalam & fungsinya?

Alat reproduksi perempuan bagian luar & fungsinya?
1. Bibir luar kemaluan / labia mayora, daerah yang berambut, berfungsi sebagai pelindung dan menjaga agar bagian dalam tetap lembab 2. Bibir dalam kemaluan / labia minora, daerah yang tidak berambut, dan terdapat jaringan serat sensorik yang luas, membuat labia minora menjadi bagian yang peka. 3. Kelentit / Clitoris, merupakan bagian yang sangat peka karena mengandung banyak ujung syaraf. 4. Vagina, merupakan rongga penghubung alat reproduksi perempuan bagian luar dan dalam.

Ala reproduksi perempuan bagian DALAM & FUNGSINYA?

(1). Vagina, merupakan jalan keluar bagi darah haid, dan jalan keluar waktu bayi lahir (bersifat sangat lentur sehingga bayi dapat keluar melalui vagina.
(2). Leher rahim/ cervix, merupakan penghubung antara vagina dan rahim.
(3). Rahim/ uterus, tempat dimana sel telur yang sudah tumbuh dirahim selama kehamilan. Kalau telur tidak dibuahi, sel telur menempel pada dinding rahim, selanjutnya dinding rahim menebal lalu luruh dan mengalir keluar melalui saluran vagina dalam bentuk darah, inilah yang disebut haid/menstruasi.
(4). Saluran telur/ tuba falopii, berupa dua saluran yang terletak di sebelah kanan dan kiri rahim, berfungsi sebagai penghubung rongga rahim dan indung telur.
(5). Dua buah indung telur/ovarium berfungsi memproduksi sel telur dan hormon perempuan yaitu, estrogen dan progesterone. Atas pengaruh hormon satu sampai dua sel telur masak setiap bulan, lalu dilepaskan ke dinding rahim. Dinding rahim menebal, yang sebetulnya berguna sebagai tempat sel telur bersarang setelah dibuahi

ALAT REPRODUKSI PEREMPUAN

Mungkin anda seorang wanita yang punya alat kelamin tapi ga tau bagian-bagiannya, nah disini dijelasin secara umum alat reproduksi wanita yang dibagi atas dua bagian yaitu bagian luar dan bagian dalam
ALAT KELAMIN LUAR (GENETALIA EXTERNA)
Mons veneris
Merupakan suatu bangunan yang terdiri atas kulit yang di bawahnya terdapat jaringan lemak menutupi tulang kemaluan /simphisis. Mons veneris ditutupi rambut kemaluan
Fungsi Mons veneris adalah sebagai pelindung terhadap benturan-benturan dari luar dan dapat menghindari infeksi dari luar

2. Labia Mayora (bibir besar)
Terdiri atas bagian kanan dan kiri lonjong mengecil ke bawah dan bersatu di bagian bawah. Bagian luar labia mayora terdiri dari kulit berambut, kelenjar lamak, dan kelenjar keringat. Bagian dalamnya tidak berambut dan mengandung kelenjar lemak, bagian ini mengandung banyak ujung syaraf sehingga sensitif terhadap hubungan seks.
3.Labia Minora (bibir kecil)
Merupakan lipatan kecil di bagian dalam labia mayora. Bagian depannya mengelilingi klitoris. Kedua labia ini mempunyai pembuluh darah, sehingga dapat menjadi besar saat keinginan seks bertambah. Labia ini analog dengan kulit skrotum pada pria.
4.Klitoris
Klitoris merupakan suatu bangunan yang terdiri dari:
-    Glans klitoris
-    Korpus klitoris
-    Krura klitoris
Merupakan bagian yang erektil, seperti penis pada pria. Mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf sehingga sangat sensitif saat hubungan seks.

5. Vestibulum
Bagian kelamin ini dibatasi oleh kedua labia kanan-kiri dan bagian atas oleh klitoris serta bagian belakang pertemuan labia minora. Pada bagian vestibulum terdapat muara vagina (liang senggama), saluran kencing, kelenjar Bartholini dan kelenjar Skene (kelenjar ini akan mengeluarkan cairan pada saat permainan pendahuluan dalam hubungan seks sehingga memudahkan penetrasi penis).
6. Himen (selaput dara)
Merupakan selaput tipis yang menutupi sebagian lubang vagina luar. Pada umumnya himen berlubang sehingga menjadi saluran aliran darah menstruasi atau cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar rahim dan kelenjar endometrium (lapisan dalam rahim).
Pada perempuan yang tidak mempunyai introitus himenalis disebut Atresia Himenalis (Hymen Inferforata), akibatnya darah mens tidak bisa keluar,
Pada saat hubungan seks pertama himen akan robek dan mengeluarkan darah. Setelah melahirkan himen merupakan tonjolan kecil yang disebut kurunkula mirtiformis.

ALAT KELAMIN PEREMPUAN BAGIAN DALAM (GENETALIA INTERNA)
Vagina (Saluran Senggama)
Merupakan saluran muskulo-membranasea (otot-selaput) yang menghubungkan rahim dengan dunia luar.
Bagian ototnya berasal dari otot levator ani dan otot sfingter ani (otot dubur) sehingga dapat dikendalikan dan dilatih. Dinding vagina mempunyai lipatan sirkuler (berkerut) yang disebut “rugae”. Dinding depan vagina berukuran 9cm dan dinding belakangnya 11cm. Selaput vagina tidak mempunyai kelenjar sehingga cairan yang selalu membasahi berasal dari kelenjar rahim atau lapisan dalam rahim. Sebagian dari rahim yang menonjol pada vagina disebut “porsio” (leher rahim). Vagina (saluran senggama) mempunyai fungsi penting :
-    sebagai jalan lahir bagian lunak,
-    sebagai sarana hubungan seksual,
-    saluran untuk mengalirkan lendir dan darah menstruasi.
Lendir vagina banyak mengandung glikogen yang dapat dipecah oleh bakteri Doderlein, sehingga keasaman cairan vagina sekitar 4,5 (bersifat asam).

2. Rahim (Uterus)
Bentuk rahim seperti buah pir/Alpukat, dengan berat sekitar 30 gr. Terletak di panggul kecil diantara rektum (bagian usus sebelum dubur) dan di depannya terletak kandung kemih. Hanya bagian bawahnya disangga oleh ligamen yang kuat, sehingga bebas untuk tumbuh dan berkembang saat kehamilan. Ruangan rahim berbentuk segitiga, dengan bagian besarnya di atas. Dari bagian atas rahim (fundus) terdapat ligamen menuju lipatan paha (kanalis inguinalis), sehingga kedudukan rahim menjadi ke arah depan. Lapisan otot rahim terdiri dari tiga lapis, yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh-kembang  sehingga dapat memelihara dan mempertahankan kehamilan selama sembilan bulan. Rahim juga merupakan jalan lahir yang penting dan mempunyai kemampuan untuk mendorong jalan lahir. Segera setelah persalinan otot rahim dapat menutup pembuluh darah untuk menghindari perdarahan. Setelah persalinan, rahim dalam waktu 42 hari dapat mengecil seperti semula.
Fungsi rahim:
-    Sebagai alat tempat terjadinya menstruasi
-    Sebagai alat tumbuh dan berkembangnya hasil konsepsi
-    Tempat pembuatan hormon misal HCG
Bagian-bagian dari rahim (uterus):
-    Servik uteri
-    Korpus uteri
-    Fundus uteri
Secara histologis uterus dibagi menjadi tiga bagian:
-    Endometrium, yaitu lapisan uterus yang paling dalam yang tiap bulan lepas sebagai darah menstruasi
-    Miometrum, yaitu lapisan tengah lapisan ini terdiri dari otot polos
-    Perimetrium, merupakan lapisan luar yang terdiri dari jaringan ikat
Uterus di dalam perut terapung-apung tetapi terfiksasi oleh jaringan-jaringan ikat & ligamentum
Ligamentum-ligamentum yang mengfiksir uterus :
1.    Ligamentum cardinale sinistra & dextra (Mackenrodt)
Ligamen ini fungsinya:
a.    Mencegah supaya uterus tidak turun
b.    Di dalamnya terdapat pembuluh darah yang arteria & vena uterina
Ligamen ini berjalan dari servix uteri dan puncak vagina ke arah lateral dinding panggul
Penyebab uterus turun:
a.    Sering melahirkan
b.    Perempuan yang sering melahirkan sering dipijat
c.    Orang yang sudah tua
2.    Ligamentum Sakro Uterinum sinistra & dextra
Fungsi : menahan uterus supaya didak dapat bergerak
Berjalan dari servik bagian belakang kiri kanan ke Os sacrum
3.    Ligamentum Rotundum sinistra & dextra
Ligamen ini berjalan dari daerah Fundus uteri ke dinding panggul
Pada perempuan hamil sering mengalami nyeri pada daerah kaki bawah dikarenakan ligamen rotundum tegang
4.    Ligamentum Latum sinistra & dextra
Merupakan suatu jaringan lapis tipis yang menutupi tuba uterina dan uterus di sebelah belakang ligamentum latum terdapat ovarium/indung telur
5.    Ligamentum infundibulum pelvikum sinistra & dextra
Di dalam ligamen ini terdapat urat-urat syaraf kelenjar limfa serta arteria dan vena ovarika untuk darah yang memberikan ke ovarium dan uterus
6.    Ligamentum ovarii proprium
Yang berjalan dari ovarium menuju ke bagian belakang Fundus uteri
Ligamentum ini secara embriologi berasal dari Gubernaculum seperti juga ligamentum rotundum

3.Tuba Fallopii
Tuba Fallopii berasal dari ujung ligamentum latum berjalan ke arah lateral, dengan panjang sekitar 12 cm. Tuba Fallopii bukan merupakan saluran lurus, tetapi mempunyai bagian yang lebar sehingga membedakannya menjadi empat bagian. Di ujungnya terbuka dan mempunyai fimbriae (rumbai-rumbai), sehingga dapat menangkap ovum (telur) saat terjadi pelepasan telur (ovulasi). Saluran telur ini menyalurkan saluran hasil konsepsi (hasil pembuahan) menuju rahim. Tuba fallopii merupakan bagian yang paling sensitif  terhadap infeksi dan menjadi penyebab utama terjadinya kemandulan (infertilitas).
Fungsi tuba fallopii sangat vital dalam proses kehamilan, yaitu menjadi saluran tempat bertemunya spermatozoa dan ovum, mempunyai fungsi penangkap ovum, tempat terjadinya pembuahan (fertilitas), menjadi saluran dan tempat pertumbuhan hasil pembuahan sebelum mampu menanamkan diri pada lapisan dalam rahim
Fungsi tuba:
-    Tempat terjadinya fertilisasi
-    Saluran yang mengeluarkan hasil konsepsi
-    Fimbria mengangkat ovum yang keluar dari ovarium

4. Indung Telur (Ovarium)
Indung telur terletak antara rahim dan dinding panggul, dan digantung ke rahim oleh ligamentum ovarii proprium dan ke dinding panggul oleh ligamentum infundibulo-pelvikum. Indung telur merupakan sumber hormonal perempuan yang paling utama, sehingga mempunyai dampak keperempuanan dalam pengatur proses menstruasi. Indung telur mengeluarkan telur (ovum) setiap bulan silih berganti kanan dan kiri. Pada saat telur (ovum) dikeluarkan perempuan di sebut “dalam masa subur”.
Produksi telur pada perempuan sesuai dengan usia adalah sebagai berikut:
Saat lahir bayi: mempunyai sel telur                           750.000
Umur 6-15 tahun:  mempunyai sel telur                      439.000
Umur 6-25 tahun: mempunyai  sel telur                      159.000
Umur 26-35 tahun: mempunyai sel telur                       59.000
Umur 35-45 tahun: mempunyai sel telur                       34.000
Masa menopause semua telur  menghilang
Fungsi ovarium:
-    Sebagai penghasil sel telur / ovum
-    Sebagai organ yang menghasilkan hormon (estrogen dan progesteron)

5.Parametrium (Penyangga Rahim)
Merupakan lipatan peritonium dengan berbagai penebalan, yang menghubungkan rahim dengan tulang panggul. Lipatan atasnya mengandung tuba fallopii dan ikut serta menyangga indumg telur. Bagian ini sensitif terhadap infeksi sehingga mengganggu fungsinya.
Hampir keseluruhan alat reproduksi perempuan berada di rongga panggul. Setiap individu perempuan mempunyai rongga panggul (pelvis ) yang berbeda satu sama lain. Bentuk dan ukuran ini mempengaruhi kemudahan suatu proses persalinan. Dan perubahan ukuran pada panggul ini pula untuk mengukur umur kehamilan seorang perempuan

 

DISPEPSIA

Apa Yang Dimaksud Dengan Dispepsia?

Dispepsia adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas atau dada yang biasanya timbul setelah makan. Penyakit refluks gastroesofageal adalah salah satu penyebab dispepsia yang paling umum. Penyebab-penyebab utama lainnya antara lain makan terlalu banyak, makan terlalu cepat dan mengabaikan proses pengunyahan dan pencernaan melalui kelenjar liur dari makanan yang tepat. Dispepsia terjadi ketika otot-otot dari organ saluran pencernaan atau saraf-saraf yang mengendalikan organ-organ tersebut tidak berfungsi dengan baik. Dispepsia adalah penyakit kronis yang biasanya berlangsung bertahun-tahun, bahkan bisa seumur hidup.

Tanda dan gejala Dispepsia yang mungkin timbul:

  • Kulit kering
  • Mual
  • Pembuluh darah yang bengkak atau melebar pada bagian putih mata, yang menyebabkan mata terlihat merah (mata merah)
  • Perut kembung
  • Rasa sakit pada bagian atas perut 

STROKE (CVA)




CVA (CEREBRO VASCULAR ACCIDENT) INFARK
1.1   Pengertian
CVA (Cerebro Vascular Accident) merupakan kelainan fungsi otak yang timbul mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran darah otak yang dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja dengan gejala-gejala berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabakan cacat berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara, proses berpikir, daya ingat dan bentuk-bentuk kecacatan lain hingga menyebabkan kematian (Muttaqin, 2008:234).   
1.2    Etiologi menurut.
Ada beberapa penyebab CVA infark (Muttaqin, 2008: 235)
1.      Trombosis serebri
Terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan edema dan kongesti disekitarnya. Trombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau bangun tidur. Terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah. Trombosis serebri ini disebabkan karena adanya:
-       Aterosklerostis: mengerasnya/berkurangnya kelenturan dan elastisitas dinding pembuluh darah
-       Hiperkoagulasi: darah yang bertambah kental yang akan menyebabkan viskositas/ hematokrit meningkat sehingga dapat melambatkan aliran darah cerebral
-       Arteritis: radang pada arteri
2.      Emboli
Dapat terjadi karena adanya penyumbatan pada pembuluhan darah otak oleh bekuan darah, lemak, dan udara. Biasanya emboli berasal dari thrombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebri. Keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan emboli:
-       Penyakit jantung reumatik
-       Infark miokardium
-       Fibrilasi dan keadaan aritmia : dapat membentuk gumpalan-gumpalan kecil yang dapat menyebabkan emboli cerebri
-       Endokarditis : menyebabkan gangguan pada endokardium
1.3    Faktor resiko terjadinya stroke
Ada beberapa faktor resiko CVA infark (Muttaqin, 2008: 236):
1.      Hipertensi.
2.      Penyakit kardiovaskuler-embolisme serebri berasal dari jantung: Penyakit arteri koronaria, gagal jantung kongestif, hipertrofi ventrikel kiri, abnormalitas irama (khususnya fibrilasi atrium), penyakit jantung kongestif.
3.      Kolesterol tinggi
4.      Obesitas
5.      Peningkatan hematokrit
6.      Diabetes Melitus
7.      Merokok

1.7  Penatalaksanaan
Ada bebrapa penatalaksanaan pada pasien dengan CVA infark (Muttaqin, 2008:14):
1.    Untuk mengobati keadaan akut, berusaha menstabilkan TTV dengan :
a.    Mempertahankan saluran nafas yang paten
b.    Kontrol tekanan darah
c.    Merawat kandung kemih, tidak memakai keteter
d.   Posisi yang tepat, posisi diubah tiap 2 jam, latihan gerak pasif.
2.    Terapi Konservatif
a.    Vasodilator untuk meningkatkan aliran serebral
b.    Anti agregasi trombolis: aspirin untuk menghambat reaksi pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma.
c.    Anti koagulan untuk mencegah terjadinya atau memberatnya trombosisiatau embolisasi dari tempat lain ke sistem kardiovaskuler.
d.   Bila terjadi peningkatan TIK, hal yang dilakukan:
1)      Hiperventilasi dengan ventilator sehingga PaCO2 30-35 mmHg
2)      Osmoterapi antara lain :
-       Infus manitol 20% 100 ml atau 0,25-0,5 g/kg BB/ kali dalam waktu 15-30 menit, 4-6 kali/hari.
-       Infus gliserol 10% 250 ml dalam waktu 1 jam, 4 kali/hari
3)      Posisi kepala head up (15-30)
4)      Menghindari mengejan pada BAB
5)      Hindari batuk
6)      Meminimalkan lingkungan yang panas
1.8    Komplikasi
Ada beberapa komplikasi CVA infark (Muttaqin, 2008: 253)
1.    Dalam hal imobilisasi:
a.    Infeksi pernafasan (Pneumoni),
b.    Nyeri tekan pada dekubitus.
c.    Konstipasi
2.    Dalam hal paralisis:
a.    Nyeri pada punggung,
b.    Dislokasi sendi, deformitas
3.    Dalam hal kerusakan otak:
a.    Epilepsy
b.    sakit kepala
4.    Hipoksia serebral
5.    Herniasi otak
6.    Kontraktur
1.9 WOC (Terlampir)
2.         KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.1     Pengkajian.
Pengkajian asuhan keperawatan (Doengoes, 2000)
a.    Identitas
biasanya dialami oleh usia tua, namun tidak menutup kemungkinan juga dapat dia alami oleh usia muda, jenis kelamin, dan juga ras juga dapat mempengaruhi.
b.    Keluhan utama
Kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, tidak dapat berkomunikasi, dan penurunan kesadaran pasien.
c.    Riwayat kesehatan sekarang
Stroke infark mendadak saat istirahat atau bangun pagi,
d.   Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, riwayat stroke sebelumnya, diabetes mellitus, penyakit jantung (terutama aritmia), penggunaan obat-obatan anti koagulan, aspirin, vasodilator, obesitas. Adanya riwayat merokok, penggunaan alkohol dan penyalahgunaan obat (kokain).
e.    Riwayat penyakit keluarga
Adanya riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes mellitus, atau adanya riwayat stroke pada generasi terdahulu.

f.     Riwayat psikososial-spiritual
Biaya untuk pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga. Perubahan hubungan dan peran terjadi karena pasien kesulitan untuk berkomunikasi akibat sulit berbicara. Rasa cemas dan takut akan terjadinya kecacatan serta gangguan citra diri.
g.    Kebutuhan
1)      Nutrisi : adanya gejala nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut, kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi, tenggorokan, disfagia ditandai dengan kesulitan menelan, obesitas
2)      Eliminasi : menunjukkan adanya perubahan pola berkemih seperti inkontinensia urine, anuria. Adanya distensi abdomen (distesi bladder berlebih), bising usus negatif (ilius paralitik), pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus
3)      Aktivitas : menunjukkan adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah, gangguan tonus otot, paralitik (hemiplegia)
4)      Istirahat : klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/nyeri otot
2.2  Pemeriksaan Fisik
a.    Sistem Respirasi (Breathing) : batuk, peningkatan produksi sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu nafas, serta perubahan kecepatan dan kedalaman pernafasan. Adanya ronchi akibat peningkatan produksi sekret dan penurunan kemampuan untuk batuk akibat penurunan kesadaran klien. Pada klien yang sadar baik sering kali tidak didapati kelainan pada pemeriksaan sistem respirasi.
b.    Sistem Cardiovaskuler (Blood) : dapat terjadi hipotensi atau hipertensi, denyut jantung irreguler, adanya murmur
c.    Sistem neurologi
1)   Tingkat kesadaran: bisa sadar baik sampai terjadi koma. Penilaian GCS untuk menilai tingkat kesadaran klien
2)   Refleks Patologis
Refleks babinski positif menunjukan adanya perdarahan di otak/ perdarahan intraserebri dan untuk membedakan jenis stroke yang ada apakah bleeding atau infark
d.   Sistem perkemihan (Bladder) : terjadi inkontinensia urine
e.    Sistem reproduksi: hemiparese dapat menyebabkan gangguan pemenuhan kebutuhan seksual
f.     Sistem endokrin: adanya pembesaran kelejar kelenjar tiroid
g.    Sistem Gastrointestinal (Bowel) : adanya keluhan sulit menelan, nafsu makan menurun, mual dan muntah pada fase akut. Mungkin mengalami inkontinensia alvi atau terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.
Adanya gangguan pada saraf V yaitu pada beberapa keadaan stroke menyebabkan paralisis saraf trigeminus, didapatkan penurunan kemampuan koordinasi gerakan mengunyah, penyimpangan rahang bawah pada sisi ipsilateral dan kelumpuhan seisi otot-otot pterigoideus dan pada saraf IX dan X yaitu kemampuan menelan kurang baik, kesukaran membuka mulut.
h.    Sistem muskuloskeletal dan integument : kehilangan kontrol volenter gerakan motorik. Terdapat hemiplegia atau hemiparesis atau hemiparese ekstremitas. Kaji adanya dekubitus akibat immobilisasi fisik.
2.3  Diagnosa Keperawatan
Menurut ( Barbara Engram, 1998, Doengoes, 2000,  Lynda, Juall).
a.    Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekresi secret  dan ketidak mampuan batuk efektif sekunder akibat cedera serebrovoskular yang ditandai dengan adanya sekret pada saluran pernapasan, suaran napas ronkhi, adanya suara nafas tambahan.
b.    Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan disfagia sekunder akibat cedera serebrovaskuler.
c.    Gangguan eliminasi urine (inkontinensia urine) berhubungan dengan lesi pada neuron motor atas yang ditandai dengan ketidakmampuan dalam eliminasi urine, ketidakmampuan miksi.
d.   Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama.
e.    Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan efek dari kerusakan pada area bicara di hemisfer otak yang ditandai dengan kerusakan artikulasi, tidak dapat berbicara,tidak mampu memahami bahasa tertulis/ucapan.
f.     Gangguan persepsi sensori yang berhubungan dengan penekanan pada saraf sensori, penurunan penglihatan yang ditandai dengan disorientasi terhadap waktu tempat dan orang, konsentrasi buruk berubahan proses berpikir yang kacau.
g.    Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/ hemiplagia, kerusakan neuromuskular pada ekstremitas yang ditandai dengan ketidak mampuan bergerak , keterbatasan rentang gerak, penurunan kekuatan/kontrol otot
h.    Gangguan eliminasi alvi(kontispasi) berhubungan dengan defek stimulasi saraf, otot dasar pelviks lemah dan imobilitas sekunder akibat stroke yang ditandai dengan pasien belum BAB selama 4 hari/konstipasi, teraba distensi abdomen.
i.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang diterima pasien tentang penyakit dialami oleh pasien yanf dtandai dengan keterbatasan kognitif, kesalahan interpretasi informasi dan tidak mengenal sumber-sumber informasi.
2.4  Intervensi dan Rasional
a.    Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekresi secret dan ketidakmampuan batuk efektif sekunder akibat cedera serbrovaskuler yang ditandai dengan adanya sekret pada saluran pernapasan, suaran napas ronkhi, adanya suara nafas tambahan
Tujuan: pasien menunjukkan bersihan jalan nafas setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria Hasil: ronkhi tidak terdengar Px menunjukkan batuk yang efektif, frekuensi nafas 16- 20 x/menit.
Intervensi:
1)   Jelaskan kepada klien mengapa terdapat penumpukan secret di saluran pernapasan dan kegunaan batuk efekif .
     R/ pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik.
2)   Beri minum hangat jika keadaan memungkinkan
     R/ membantu pengenceran secret sehingga mempermudah pemngeluaran
3)   Ajarkan pasien batuk efektif.
     R/ batuk yang efektif dapat mengeluarkan secret dari saluran pernapasan.
4)   Lakukan pengisapan lender, batasi durasi pengisapan dengan 15 detik atau lebih.
     R/ pengisapan lender dilakukan untuk mengurangi adanya penumpukkan secret dan durasinya pun dapat dikurangi untuk mencegah bahaya hipoksia.
5)   Kolaborasi dalam pemberian bronkodilator
     R/ mengatur ventilasi dan melepaskan secret karena relaksasi notot brokosposme.
6)   Observasi keadaan umum TTV
     R/ mengetahui keberhasilan tindakan.
b.    Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplagia, kerusakan neuromuskular pada ekstremitas yang ditandai dengan ketidak mampuan bergerak , keterbatasan rentang gerak, penurunan kekuatan/kontrol otot.
Tujuan: klien mampu meningkatkan aktivitas fisik yang sakit atau lemah, dengan kriteria hasil:
1)   Ekstremitas tidak tampak lemah
2)   Ekstremitas yang lemah dapat diangkat dan digerakkan secara mandiri
3)   Ekstremitas yang lemah dapat menahan posisi tubuh saat miring kanan atau kiri
Intervensi:
1)   Jelaskan pada pasien akibat dari terjadinya imobilitas fisik
R/ imobilitas fisik akan menyebabkan otot-otot menjadi kaku sehingga penting diberikan latihan gerak.
2)   Ubah posisi pasien tiap 2 jam
R/ menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan
3)   Ajarkan pasien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstrimitas yang sakit
R/ gerakan aktif memberikan dan memperbaiki massa, tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan.
4)   Anjurkan pasien melakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang tidak sakit
R/  mencegah otot volunter kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan
5)   Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien
R/ peningkatan kemampuan daam mobilisasi ekstremitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik dari tim fisioterapi
6)   Observasi kemampuan mobilitas pasien
R/ Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan gerak pasien setelah di lakukan latihan dan untuk menentukan intervensi selanjutnya.
c.    Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan disfagia sekunder akibat    cedera serebrovaskuler
Tujuan:Pasien tetap menunjukan pemenuhan nutrisi selama dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil :tidak terjadi penurunan berat badan, HB dan albumin dalam batas normal HB: 13,4 – 17,6 dan Albumin: 3,2 -  5,5 g/dl.
     Intervensi :         
1)   Jelaskan pentingnya nutrisi bagi klien
R/ nutrisi yang adekuat membantu meningkatkan kekuatan otot
2)   Kaji kemampuan klien dalam mengunyah dan menelan
     R/ untuk menetapkan jenis makanan yang akan diberikan kepada klien
3)   Letakkan kepala lebih tinggi pada waktu selama & sesudah makan
     R/ memudahkan klien untuk menelan
4)   Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan   menekan ringan di atas bibir / bawah dagu jika dibutuhkan
     R/membantu dalam melatih kembali sensoro dan meningkatkan kontrol muskuler
5)   Kolaborasi dalam pemberian cairan parenteral atau memberi makanan melalui NGT
     R/membantu memberi cairan dan makanan pengganti jika klien tidak mampu memasukan secara peroral.

6)   Observasi keadaan, keluhan dan asupan nutrisi
     R/ mengetahui keberhasilan tindakan dan untuk menentukan intervensi selanjutnya
d.        Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubungan dengan defek stimulasi saraf, otot dasar pelviks lemah dan imobilitas sekunder akibat stroke ditandai pasien belum BAB selama 4 hari, teraba distensi abdomen.
Tujuan: pasien mampu memenuhai eliminasi alvi dengan kriteria hasil:
1)   pasien dapat defekasi secara spontan dan lancar  dengan menggunakan obat
2)   konsistensi feses lembek
3)   tidak teraba distensi abdomen
       Intervensi:
1)   Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga tentang penyebab konstipasi.
R/ konstipasi disebabkan oleh karena penurunan peristaltic usus.
2)   Anjurkan pada pasien untuk makan makanan yang mengandung serat.
R/ diet seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristaltik dan eliminasi reguler
3)   Bila pasien mampu minum, berikan asupan cairan yang cukup (2 liter/hari) jika tidak ada kontraindikasi.
R/ masukan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi feses yang sesuai pada usus dan membantu eliminasi reguler
4)   Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan pasien.
R/ aktivitas fisik membantu eliminasi dengan memperbaiki tonus otot abdomen dan merangsang nafsu makan dan peristaltic
5)   Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian pelunak feses (laksatif, supositoria, enema)
R/ pelunak feses meningkatkan efisiensi pembasahan air usus, yang melunakkan massa feses dan membantu eliminasi.

e.    Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan mobilitas sekunder akibat stroke.
Tujuan: pasien mampu mempertahankan keutuhan kulit dengan kriteria hasil:
1)   Pasien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka
2)   Mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka
3)   Tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka.
Intervensi:
1)   Anjurkan untuk melakukan latihan mobilisasi
R/ menghindari tekanan dan meningkatkan aliran darah
2)   Ubah posisi tiap 2 jam
R/ menghindari tekanan yang berlebihan pada daerah yang menonjol
3)   Observasi terhadap eritema, kepucatan dan palpasi area sekitar terhadap kehangatan dan pelunakan jaringan tiap mengubah posisi
R/ mempertahankan keutuhan kulit
4)   Jaga kebersihan kulit dan seminimal mungkin, hindari trauma dan panas pada kulit.
R/ menghindari kerusakan-kerusakan kapiler
f.     Gangguan persepsi sensori yang berhubungan dengan penekanan pada saraf sensori yang ditandai dengan disorientasi terhadap waktu tempat orang, perubahan dalam respon terhadap rangsangan.
Tujuan : meningkatnya persepsi sensorik secara optimal setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan kriteria hasil:
1)   Adanya perubahan kemampuan yang nyata
2)   Tidak terjadi disorientasi waktu, tempat dan orang
Intervensi:
1)   Tentukan kondisi patologis klien
R/ untuk mengetahui tipe dan lokasi yang mengalami gangguan
2)   Kaji gangguan penglihatan terhadap perubahan persepsi
R/untuk mempelajari kendala yang berhubungan dengan disorientasi klien
3)   Latih klien untuk melihat suatu objek dengan telaten dan seksama
R/agar klien tidak kebinggungan dan lebih konsentrasi
4)   Observasi respon prilaku klien seperti menanggis, bahagia, bermusuhan, halusinasi setiap saat
R/ untuk mengetahui keadaan emosi klien.
g.    Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan efek dari kerusakan pada area bicara di hemisfer otak yang ditandai dengan dengan kerusakan artikulasi, tidak dapat berbicara,tidak mampu memahami bahasa tertulis/ucapan.
Tujuan : proses komunikasi klien dapat berfungsi secara optimal dengan kriteria hasil:
1)   Terciptanya suatu komunikasi dimana kebutuhan klien dapat terpenuhi
2)   Klien mampu merespon setiap berkomunikasi secara verbal maupun isyarat.
Intervensi
1)   Berikan metode alternatif komunikasi misalnya bahasa isyarat
R/ memenuhi kebutuhan komunikasi sesuai dengan kemampuan klien
2)   Antisipasi setiap kebutuhan klien saat berkomunikasi
R/ mencegah rasa putus asa dan ketergantungan pada orang lain
3)   Bicaralah dengan klien secara pelan dan gunakan pertanyaan yang jawabannya “ya” atau “tidak”
R/ mengurangi kecemasan dan kebinggunan pada saat berkomunikasi
4)   Anjurkan kepada keluarga untuk tetap berkomunikasi dengan klien
R/mengurangi rasa isolasi sosial dan meningkatkan komunikasi yang efektif
5)   Hargai kemampuan klien dalam berkomunikasi
R/memberi semangat pada klien agar lebih sering melakukan komunikasi
6)   Kolaborasi dengan fisioterapis untuk latihan Bicara
R/ melatih klien berbicara secara mandiri dengan baik dan benar.
h.    Gangguan eliminasi urine (inkontinensia urine) berhubungan dengan lesi pada neuron motor atas.